Pengalaman Odontektomi Menggunakan Fasilitas BPJS

Sedikit bercerita tentang pertama kalinya saya melakukan operasi bedah mulut. Nama di ilmu kedokterannya adalah Odontektomi. Jadi permasalahannya adalah tumbuhnya gigi geraham bungsu yang tidak normal atau disebut dengan Impaksi. Tumbuhnya gigi tersebut bermacam-macam posisinya, ada yang tiduran, ada yang nyundul, dan bahkan ada yang tidak bisa dijelaskan lagi posisinya. Tapi sebagian besar gigi ini tumbuh dengan mendorong gigi disebelahnya dan menyebabkan berbagai macam masalah. Itulah sebabnya mengapa harus dilakukan odontektomi dengan mengangkat gigi tersebut agar tidak menimbulkan masalah lagi kedepannya.

Pertama disarankan gigi geraham tersebut harus diangkat itu oleh dokter gigi langganan keluarga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Akibat seringnya gigi geraham saya menimbulkan sakit yang tidak diinginkan maka solusinya adalah diangkatnya gigi geraham saya. Pada saat itu jelas saya langsung setuju saja, alasannya biar cepat dan tidak menimbulkan masalah lagi nantinya. Setelah saya berkonsultasi lebih lanjut, ternyata biaya yang harus dikeluarkan itu tidak sedikit dan bahkan mencapai tiga juta rupiah untuk satu gigi saja. Wow, jumlah yang tidak sedikit buat saya.

Pulang dengan membawa obat sementara agar sakit gigi saya hilang, saya berfikir bagaimana caranya saya di-odontektomi tanpa harus bayar semahal itu. Akhirnya muncul sebuah ide cemerlang setelah searching di google. Pakai BPJS ternyata odontektomi itu gratis.

Dulu saya memiliki Askes dari orang tua saya, berhubung Askes hanya berlaku bagi anak hingga lulus kuliah, saya akhirnya mendaftarkan diri saya ke BPJS melalui online website. Beruntung pendaftarannya tidak begitu merepotkan walaupun sempat satu minggu down dan tidak bisa mendaftar.

Bermodalkan kartu BPJS, saya datang ke faskes tingkat 1 untuk mendapatkan rujukan. Rujukan ini berguna untuk administrasi di rumah sakit nantinya karena pihak rumah sakit hanya mau menerima pasien dengan rujukan dari faskes tingkat 1 kecuali dalam keadaan gawat darurat.

Saya mendaftarkan BPJS dengan faskes tigkat 1 di Puskesmas Pasir Mulya di Kota Bogor. Puskesmas ini termasuk yang terbaik di tingkat kota dengan standar pelayanan dan kelengkapan dokternya. Namun demikian, berhubung puskesmas merupakan milik pemerintah dengan biaya pengobatan yang lebih murah maka banyak pula orang yang berobat ke puskesmas. Hal ini yang menjadi kekurangan fasilitas yang murah dimana antrian begitu banyaknya karena kapasitas tidak sebanding dengan banyaknya jumlah pasien yang berobat. Pengalaman di Puskesmas Pasir Mulya ini, bila ingin daftar di bagian gigi, kita harus datang pagi sekali sekitar pukul 6. Padahal administrasi baru dibuka sekitar pukul 8.

Setelah mendapat rujukan dari puskesmas, keesokan harinya saya datang ke rumah sakit sesuai dengan tempat yang saya telah rujuk yaitu RS PMI Bogor. Lagi-lagi, disini antriannya sungguh sangat terlalu. Dan lagi-lagi saya diharuskan lebih bersabar karena ini semua gratis. Mana ada jaman sekarang yang mendapatkan sesuatu tanpa pengorbanan, kan? BPJS itu yang dikorbankan ya waktu kita yang tidak berharga ini.

Pertama datang ke RS PMI Bogor pada hari Jumat sekitar pukul 8 dan mendapat nomor antrian 134. Sialnya pada hari itu ternyata tidak ada dokter spesialis bedah mulut karena di RS PMI Bogor hanya ada satu dokter dengan jadwal praktek hari selasa, kamis, dan sabtu. Lebih sialnya lagi, saya baru diberitahu ketika sudah antri di loket JKN hampir 2 jam lamanya. Untuk hari itu saya berfikir positif saja bahwa hal itu dijadikan pengalaman pertama.

Sekilas tentang RS PMI Bogor (http://www.rspmibogor.or.id/), di rumah sakit ini terdapat dua jenis poliklinik yaitu poliklinik regular dan poliklinik afiat. Bedanya, poliklinik afiat lebih mahal dari segi biaya dengan target pasar lebih ke arah kelas menengah atas. Jelas di poliklinik ini jauh lebih sedikit pasiennya sehingga antriannya tidak seperti poliklinik regular. Berhubung saya adalah pasien rujukan BPJS, maka yang dituju tentu poliklinik regular.
Di poliklinik regular ini kita mengantri dengan menggunakan nomor. Jadi ketika masuk ada satpam yang menjaga mesin nomor antrian di bagian sebelah kiri mirip di bank. Nomor antrian terbagi 5, A untuk administrasi rekam medik dan B merupakan loket untuk umum yang terpisah dengan loket JKN, sedangkan C, D, dan E adalah loket untuk JKN/BPJS/Askes dengan pengelompokan piliklinik. Informasi tentang loket mana yang kita pilih dengan tujuan poliklinik sesuai rujukan kita dapat dilihat informasinya didekat mesin nomor antrian atau menyebutkannya langsung ke satpam yang bertugas.
Perlu diperhatikan untuk peserta JKN/BPJS/Askes yang baru pertama kali datang berobat di RS PMI bogor, ada baiknya mendaftarkan nomor rekam medik di loket A dan melihat jadwal dokter yang berada tepat di depan pintu masuk guna memudahkan administrasi kedepannya.

Setelah nomor antrian dipanggil di loket pendaftaran, nantinya kita diminta memperlihatkan KTP asli, Kartu BPJS, dan Rujukan Faskes tingkat 1. Baru setelahnya kita menunggu di poliklinik masing-masing untuk dipanggil dan diperiksa.

Sabtu pagi sekitar pukul 7.30 saat itu saya datang ke RS PMI Bogor, saya terkejut dengan mendapatkan nomor antrian 187. Wah, bagaimana ceritanya datang jam segini dapat antrian nomor yang lebih besar?

Setelahnya, saya pun bertemu dengan dokter spesialis bedah mulut. Pada pertemuan pertama ini layaknya seperti perkenalan, tapi dokternya ini semacam kurang piknik sehingga tanpa bak-bik-buk saya langsung disuruh duduk di kursi periksa dan dilihatnya gigi saya yang akan dibedah, sehabis itu langsung disuruh rontgen dental panoramic dan dijadwalkan operasinya. Jadwalnya ini termasuk lama, sekitar 10 hari kemudian. Entah hal itu disebabkan oleh ramainya pasien atau memang prosedurnya harus selama itu. Yang pasti saat itu gigi saya tidak sedang sakit.

Satu minggu setelahnya, saya kembali ke RS PMI Bogor untuk rontgen dental panoramic. Saya datang siang menurut petunjuk suster yang mengurusi berkas administrasi di poliklinik gigi dan bedah mulut.

Hari bersejarah itu pun akhirnya tiba, selasa, 10 hari setelahnya, pada pagi hari saya bergegas menuju RS PMI Bogor untuk operasi odontektomi dengan membawa hasil rontgen dental panoramic saya. Tidak disangka dan tidak terkira, saya yang datang sekitar pukul 7 kaget melihat antrian yang mengular untuk mengambil nomor antrian. Antri untuk mengantri. Saya pasrah dengan mendapatkan nomor antrian 149.

Sekilas tentang administrasi BPJS di RS PMI Bogor, pada pertemuan pertama dengan dokter spesialis bedah mulut, saya mendapatkan fotokopi lampiran biaya yang akan ditanggung oleh BPJS. Untuk biaya totalnya sekitar hampir dua juta rupiah untuk odontektomi satu gigi. BPJS sendiri punya prosedur pembiayaan untuk tindakan medis dimana biaya yang ditanggungkan hanya bisa diberikan pada satu tindakan medis per harinya. Misalnya, kita ingin tambal dua gigi pada hari yang sama, maka yang dibayarkan BPJS hanya untuk satu gigi saja.
Lembar asli beserta fotokopi dan dokumen pendukung mengenai biaya tersebut pada hari dilaksanakannya operasi kita harus menebusnya di kantor pelayanan JKN yang berada diseberang bangunan RS PMI Bogor. Baru setelahnya kita dapat melaksanakan operasi bedah mulut.

Baru dipanggil bagian poliklinik gigi sekitar pukul 10.30 saya diberi tahu bahwa seharusnya tadi setelah mengambil nomor antrian saya langsung datang ke bagian poliklinik giginya untuk mengurus persetujuan tindakan yang dibiayai BPJS.

Setelah selesai mengurusi ini itu, saya masuk ruangan, dokternya langsung mulai operasi dan terjadilah operasi bedah mulut itu untuk satu gigi geraham kanan. Setelahnya saya dianjurkan untuk tidak memakai daerah gigi yang dicabut untuk makan sementara dan dilarang untuk mengisap atau menyedot daerah luka serta ada larangan untuk merokok berhubung saya adalah perokok. Keluar dari poliklinik gigi dan bedah mulut saya harus mengambil obat di bagian khusus JKN. Saat memberikan resep obat kepada apotekernya, saya diberitahu bahwa obatnya baru bisa diambil tiga jam kemudian. Hah, saya kaget. Ini gimana nasibnya gusi saya yang sebentar lagi hilang kekebalannya. Tapi apa boleh buat, saya terpaksa menunggu. Sampai saatnya rasa sakit itu muncul, saya mulai tidak sabar dan memohon untuk obatnya dipercepat. Tapi apotekernya bilang kalau itu tidak mungkin. Berhubung apoteker yag bertugas saat itu manis, saya tidak jadi marah-marah. Tapi sekali lagi saya memohon untuk dapat obatnya sesegera mungkin karena saya sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya. Akhirnya dia memberi solusi dengan memberikan obat pereda rasanya nyeri terlebih dahulu. Alangkah baiknya dia seperti malaikat yang datang membawa kedamaian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s