Memanusiakan Manusia, Berubah atau Mati.

Berangkat dari sebuah persepsi ketika manusia modern yang bekerja melakukan pekerjaan yang sama berulang-ulang agaknya terlihat seperti mesin yang memiliki kehidupan. Seringkali kita beranggapan, bahwa apa yang kita kerjakan selama ini juga memberikan nilai tambah bagi orang lain, bagi lingkungan, dan bahkan bagi perekonomian. Padahal, mesin juga memiliki nilai tambah, dan untuk beberapa jenis pekerjaan bahkan secara ekonomi lebih efisien dibandingkan manusia.

Sistem liberal yang mendunia telah menjadikan orang yang tidak mampu bersaing akan tergilas oleh kerasnya hukum seleksi alam. Manusia dihadapkan pada dua pilihan, jika tidak mau ikut berubah, maka pilihan lainnya adalah mati.

Adanya perubahan tidak semua orang mampu menghadapinya. Mereka sangat mungkin untuk protes. Meskipun, protes terhadapnya hanya berlaku sementara saja. Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan demi perubahan pun terus berlalu tanpa peduli berapa banyak orang yang digilas olehnya.

Sejarah mencatat, protes paling hebat terhadap perubahan boleh dikatakan adalah Revolusi Industri. Di era ini terjadi perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosialekonomi, dan budaya di dunia. Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa BaratAmerika UtaraJepang, dan menyebar ke seluruh dunia.

Awal mula Revolusi Industri di Inggris pada hakikatnya adalah perubahan dalam cara pembuatan barang-barang yang semula dikerjakan dengan tenaga manusia, kemudian digantikan dengan tenaga mesin. Dengan demikian, barang-barang dapat dihasilkan dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif singkat.

Revolusi Industri sangat berdampak pada perekonomian pada saat itu. Dengan biaya yang relatif lebih murah dapat menghasilkan barang yang banyak, hasilnya menjadikan harga barang-barang menjadi murah. Sehingga, setelah adanya Revolusi Industri, perekonomian terus meningkat, mortalitas menurun, dan GDP per kapita meningkat drastis.

Sejak adanya Revolusi Industri, mulai terbentuklah kelas di kalangan masyarakat, yaitu kaum buruh dan kaum pemodal. Revolusi Industri telah merubah persepsi dari yang sebelumnya padat karya, menjadi padat modal. Sehingga, untuk meningkatkan output yang lebih tinggi, maka pemilik modal memilih menginvestasikan uangnya untuk pembelian mesin daripada menambah tenaga kerja. Mesin telah menggantikan tenaga manusia karena mesin dapat menghasilkan output yang lebih tinggi.

Banyak orang yang kehilangan pekerjaannya saat itu. Akibatnya, kondisi pasar tenaga kerja menjadi tidak stabil. Revolusi Industri telah merubah pola perekrutan tenaga kerja dari yang sebelumnya diperlukan kriteria khusus bergantung pada industrinya, menjadi lebih general asalkan dapat mengoperasikan mesin.

Hal ini berdampak pada posisi tawar para pekerja. Mereka yang sudah nyaman dengan keahliannya mendadak tergantikan oleh mesin. Mesin yang pada saat itu adalah tekhnologi yang baru menjadikan seluruh tenaga kerja tidak memiliki pengalaman dalam pengoperasian mesin. Artinya, posisi tawar semua pekerja menjadi sama rata. Tenaga kerja menjadi berlimpah. Upah menajadi rendah. Mereka yang sudah nyaman sebelumnya dihadapkan pilihan pada upah yang menjadi lebih rendah dan kamauan untuk belajar hal baru.

Apakah penciptaan artificial intelligence dapat menjadi ancaman besar dalam peradaban manusia?

Saat ini, dunia teknologi tengah disibukan dengan penciptaan Artificial Intelligence atau yang disebut AI. Teknologi ini dapat merespon apapun yang nantinya dianalisa dan dijadikan informasi dalam sistem untuk menentukan segala tindakannya.

Penggunaan yang sudah sering kita liat di media adalah adanya mobil tanpa awak yang mampu berjalan dengan autonomous. Dapat merespon kendaraan yang melambat didepannya, hingga merespon bila terjadi hujan.

Robot pun kini memiliki kemampuan berpikir dan menentukan segala tindakannya, sudah layaknya manusia. Apa yang akan dilakukan oleh manusia akan hal tersebut? Bagaimana manusia dapat bertahan ketika semuanya telah dikuasai oleh robot. Ironisnya, robot diciptakan dengan tujuan untuk memudahkan pekerjaan manusia, namun menjadi sebuah ancaman besar terhadap kelangsungan hidup manusia.

Manusia saat ini untuk bertahan hidup adalah dengan cara bekerja, memberi kontribusi kepada perusahaan, atau institusi, atau bisnisnya. Mereka bekerja untuk mendapatkan uang. Saat robot menggantikan pekerjaan manusia, kaum pemodal juga akan merubah pola bisnisnya dengan lebih menitikberatkan investasinya pada teknologi, bukan lagi pada kemampuan manusianya. Trade off tersebut cepat atau lambat akan menyebar ke seluruh dunia. Lalu, bagaimana nasib manusia nantinya?

Katanya manusia adalah mahkluk yang sempurna. Nyatanya, manusia adalah mahkluk yang rapuh dengan keinginan tak terbatas. Satu kelebihannya, manusia itu memiliki free will, atau yang saya sebut dengan istilah kesadaran. Dengan demikian, manusia memiliki kemampuan untuk melakukan apa saja, tidak terbatas hanya pada urusan biologisnya semata.

Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja. — Buya Hamka

Ada sedikit opini dari HBR mengenai bagaimana kita melihat dunia teknologi dewasa ini. Pada akhirnya, semua akan bermuara pada dua kelompok besar. Yang pertama, dari sudut pandang pesimisme, akan terjadi pengangguran secara besar-besaran yang nantinya akan menjadi akhir dari kehidupan manusia. Namun, dari sudut pandang optimisme, mesin nantinya akan membantu menggantikan kita dalam pekerjaan yang harus menuntut higher add value, sehingga manusia modern nantinya fokus ke dalam pekerjaan yang menuntut kreatifitas tinggi.

Pasar tenaga kerja nantinya akan terkoreksi, jenis-jenis pekerjaan yang selama ini ada akan hilang, berganti pada pekerjaan-pekerjaan yang menuntut keunikan dan keterampilan khusus. Seperti animator, komikus, pelukis, musisi, dan sebagainya yang bisa menghadirkan keunikan individu.

Bagaimana seharusnya manusia merespon fenomena ini? lagi-lagi berubah. Manusia dituntut untuk dapat beradaptasi dan berubah sepanjang hidupnya. Kejadian ini serupa dengan revolusi industri yang sebelumnya di seluruh dunia.

Manusia-manusia dituntut untuk beradaptasi dan berinovasi, berubah, untuk bertahan hidup di era Industri 4.0 yang saat ini sedang tren di seluruh dunia.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s