Pengabdi CommuterLine

KRL-nya gangguan lagi..

Bagi yang bekerja di Jakarta dan tinggal di kota satelit, pasti banyak yang menggunakan jasa CommuterLine ini. Suka duka di pekerjaan mungkin bisa sebanding dengan suka-dukanya pengalaman kita yang setia menggunakan KRL.

Berikut ini adalah galeri foto yang saya dedikasikan untuk para pengabdi CommuterLine. Foto-foto ini diambil dari waktu yang berbeda-beda dalam rentang 2014-2017. Mungkin sudah ada beberapa yang berubah, jadi lebih baik tentunya. Saya berharap, PT. KCJ kedepannya selalu dapat meningkatkan pelayanan yang masih kurang, dan mempertahankan pelayanan yang sudah baik. Ratusan ribu pekerja di Jakarta bisa hadir tepat waktu bergantung dengan akurasi estimasi perjalanan keretamu! Salam hangat, dari salah satu pengabdi CommuterLine.

Advertisements

Elegi Pembangunan: Hunian Vertikal di Pusat Kota Bogor

Beberapa minggu yang lalu, saya sedikit terkejut dengan pemberitaan Radar Bogor mengenai rencana pembangunan apartemen di kawasan sekitar Stasiun Bogor. Dan hari ini, saya sudah mulai melihat iklan apartemen tersebut berkeliaran di laman Facebook saya. Ternyata, belakangan saya tahu kalau groundbreaking proyek tersebut, yang direncanakan pada 5 oktober 2017 kemarin, batal dengan alasan proses perijinan yang belum selesai.

Continue reading

Problematika Kota Urban: Angkot Bogor

VID_20170910_134631

Siapa yang tidak mengenal Angkot? Dulu, angkot adalah moda transportasi yang paling efisien, karena jalan relatif lebih sepi dan jarak antara rumah dan pusat bisnis yang cukup jauh-jauh. Angkot ada untuk mengakomodir penumpang dari perkampungan-perkampungan yang terbangun secara sporadis, masuk ke jalan-jalan kecil dengan jumlah penumpang yang ala kadarnya. Semakin ramai daerah-daerah tersebut, jumlah angkot semakin banyak juga. Saat ini keberadaannya justru menimbulkan sebuah permasalahan yang serius karena angkot telah menjadi biang keladi dari kemacetan-kemacetan di kota urban.

Continue reading

Throwback Gili Trawangan: Snorkeling

Liburan di Gili Trawangan tahun 2014 lalu hanya sebentar, menginap semalam, lalu pulang. Hari kedua, saya memutuskan untuk snorkeling! Saya kesini sendiri, jadi untuk snorkeling ini saya ikut dengan rombongan lain yang saya sendiri tidak tahu di awal ketika membeli tiketnya. Ternyata, tanpa diduga, saya ikut rombongan turis asing! Inilah awal yang tidak terduga. Masalahnya, rata-rata turis tersebut mahir berenang. Tidak seperti saya yang mampu berenang ala kadarnya. Sungguh, saya sendiri malu disini. Ditambah lagi dalam rangkaian snorkeling ini ada aktifitas mengejar penyu, yang mana dalam mengejar penyu itu butuh menyelam hingga lebih dari 3 meter. Jadi, saya hanya bisa melihat turis-turis asing tersebut mengejarnya saja. Ikut menjadi tim hore ketika mereka dapat melihat penyu yang ditunggu-tunggu.

Throwback Gili Trawangan: Sunset

Setelah asik berkeliling menggunakan sepeda sewaan di Gili Trawangan, saya akhirnya beristirahat di pinggir pantai. Minuman masih melekat di tangan, melamunkan berbagai hal sungguh mempercepat waktu. Tak terasa, matahari sudah mulai tenggelam. Lupa untuk mencari tempat yang pas untuk menangkapnya saat itu. Foto senja ala kadarnya ini saya pikir cukup menunjukan bahwa hari pertama saya di Gili Trawangan ketika itu membuat lupa segalanya.

Throwback Gili Trawangan: Arrival

Siang menuju sore, saat saya pertama kali tiba di Gili Trawangan tahun 2014 yang lalu. Apalagi yang bisa saya ucap? Tidak ada, saya hanya melihat kagum akan keindahannya. Lebay, kalau itu bukan yang pertama kali. Sebelum saya mencari penginapan murah, saya malah asik langsung jalan-jalan di sekitar tempat saya turun dari perahu. Lalu berhenti dan duduk sebentar dibawah pohon sambil kipas-kipas. Memperhatikan kegiatan orang-orang disekitar, memperhatikan pekerja melakukan bongkar-muat barang dari perahu, memperhatikan kegiatan turis-turis asing sekitar pantai. Ya, pertama berada di Gili Trawangan kita seperti diajak melepas dunia kita dan fokus untuk bersenang-senang di tempat ini.