Desir Angin dari Sudut Kota Bandung

Kebetulan pada hari kamis, minggu lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Kota Bandung, kota dimana sejuta kenangan saya berada di sini. Pagi-pagi buta saya berangkat naik KRL ke Stasiun Gambir, lalu, melanjutkan perjalanan menggunakan KA Argo Parahyangan.

Tiba-tiba peluit panjang dari PPKA berbunyi panjang melakukan semboyan 41. Kereta pun berjalan perlahan. Dalam perjalanan, sesekali saya melihat-lihat ke luar jendela, dan saya bertanya-tanya di dalam hati. Ada apa di Kota Bandung saat ini? Tempat makan? Tempat nongkrong? Orang-orangnya? Udaranya? Wah, macam-macam pokoknya.

Sesampainya di Stasiun Bandung, hati merasakan getir yang amat sangat. Sudah 4 tahun yang lalu terakhir kali saya menginjakan kaki di kota ini. Sekilas semuanya tampak sama saja. Tidak berbeda dengan sewaktu dulu. Mungkin perbedaan yang mencolok hanya pada macetnya Kota Bandung yang saat itu saya rasa bertambah parah.

Saya berjalan menyusuri lorong-lorong yang penuh dengan jajanan di pinggir jalan. Melihat tempat-tempat yang dulu saya pernah kunjungi. Saya mengobrol di sini dengan teman baru, yang tidak mengenal saya sewaktu masa kuliah. Ada kecanggungan dari obrolan-obrolan tersebut yang saya anggap hanya biasa saja. Namun, rasa itu terus menyeruak.

Dan pada akhirnya saya menyadari, Bandung saat ini tidak lagi sama dengan sewaktu dulu. Bukan soal perubahan-perubahan bandung secara fisik, atau munculnya gedung-gedung pencakar langit baru, atau bahkan kemacetan yang semakin parah. Tapi, karena keadaan saat ini jelas sudah berbeda, dan saat ini tidak ada lagi orang-orang yang mengisi momen-momen saya seperti semasa kuliah dulu.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa kita hidup menjalankan momen-momen yang hampir pasti tidak akan terulang kembali. Maka dari itu, Kota Bandung menjadi kenangan bagi saya.

Angin berdesir, menghentakan saya yang sedang melamun kosong di sebuah resto di pinggir Kota Bandung. Cuaca yang sendu ditambah dinginnya udara Kota Bandung di malam hari, membuat lamunan-lamunan kosong menjadi tidak terbendung.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s