Galeri Foto: Wara-Wiri di Bogor

Bogor biasanya ketika memasuki bulan-bulan oktober sering turun hujan. Maka dari itu Bogor relatif lebih sejuk. Tapi, kalau tidak hujan, Bogor tidak kalah panasnya dibanding Jakarta. Foto ini diambil ketika terik-teriknya matahari memancarkan sinarnya. Bisa dibayangkan betapa panas saat itu. Padahal itu hanya panas di bumi, belum lagi panas di neraka nantinya, ya.

Advertisements

Tikungan Ekstrem Sitinjau Lauik

Bermula ketika saya membuka youtube, di halaman home, ada selipan video mengenai bus dan truk yang melewati sebuah tikungan tajam di daerah Sumatera. Dan, banyak dari truk tersebut terlihat bersusah-payah melewati tikungan dengan medan yang berbelok serta curam. Supir-supir ini saya rasa sudah gila semuanya.

Continue reading “Tikungan Ekstrem Sitinjau Lauik”

Kesemrawutan Lalu Lintas Seolah Dibiarkan Pemerintah

Semakin penuh dan sesaknya jalan raya karena bertambahnya volume kendaraan dari tahun ke tahun adalah keniscayaan. Pertumbuhan jumlah mobil akan selalu lebih besar dengan pertumbuhan panjang jalan, ceteris paribus. Karena ekonomi yang terus tumbuh, artinya semakin makmur masyarakatnya, semakin mampu juga mereka untuk memenuhi jalan raya dengan mobil mereka.

Continue reading “Kesemrawutan Lalu Lintas Seolah Dibiarkan Pemerintah”

Foto: Tentang Kaum Proletar

20150720_151849-3Sekilas ketika saya melihat salah satu fenomena di jalan raya, seperti misalnya pengendara motor yang membawa istri dan kedua anaknya, agaknya membuat miris hati.

Keselamatan di jalan raya mereka pertaruhkan agar sekeluarga bisa pergi ke tempat tujuannya. Menggunakan motor pribadi adalah pilihan paling murah juga efisien bila dihadapkan dengan naik kendaraan umum, yang, selain lebih mahal, juga lebih ribet. Saya pun dapat mengerti, memang seperti itulah pilihan yang terpaksa diambil. Sang suami tentu mengetahui apa resikonya. Tapi, toh itupun kalau amit-amit kejadian.

Sang suami tanpa sadar sudah bermain probabilitas. Menghitung-hitung kemungkinan terjadinya kesialan di jalan, lalu membandingkan dengan kemungkinan terbaiknya.

Pilihan pun diambilnya.

Perilaku tersebut adalah sewajar dan sewarasnya manusia. Secara moral, mereka tidak bersalah. Karena keadaan ekonomi, nyawa hanya sekedar hitung-hitungan statistik saja. Dengan keterbatasannya, dia berusaha untuk membahagiakan keluarganya.

Secara umum, penilaian kesehatan dan keselamatan bergantung dari seberapa kemakmuran seseorang. Mungkin, kaum borjuis tidak akan pernah dihadapkan pilihan tersebut. Selama mampu membayar kepastian kesehatan dan keselamatan, mereka tidak akan mengambil resiko. Kemakmuran meningkatkan nilai nyawa itu sendiri.

Uang memang bukan segalanya. Tapi, uang dapat merubah cara pandang seseorang dalam menilai sesuatu.