Galeri Foto: Wara-Wiri di Bogor

Bogor biasanya ketika memasuki bulan-bulan oktober sering turun hujan. Maka dari itu Bogor relatif lebih sejuk. Tapi, kalau tidak hujan, Bogor tidak kalah panasnya dibanding Jakarta. Foto ini diambil ketika terik-teriknya matahari memancarkan sinarnya. Bisa dibayangkan betapa panas saat itu. Padahal itu hanya panas di bumi, belum lagi panas di neraka nantinya, ya.

Galeri Foto: Salah Satu Sudut Kota Bogor

Dalam rangka ingin mengenang daerah tualang saya ketika masih SD, saya pergi ke daerah Panaragan ke belakang. Disini ada transportasi unik untuk melintasi sungai, memotong ke daerah Cibalagung, namanya eretan.

Sekilas dari foto ini yang diambil tahun 2018 ini, sama sekali tidak ada yang berubah. Rumah-rumah tepi jurang sungai tetap masih kokoh berdiri dari 20 tahun silam. Menarik, bukan? Akan lebih menarik lagi, jika masyarakatnya memiliki budaya membuang pada tempatnya, bukan membuang sampah ke sungai.

Galeri Foto: Macet-Macetan

Ketika bosan melanda di saat macet-macetan, coba-coba fotoin kondisi jalannya buat menghibur diri, terutama saat sendiri. Alhasil, nambahin koleksi foto dan menuhin HDD. Maka, ada baiknya untuk dibagikan di dunia maya.

Biasanya hiburan saya di mobil ketika bermacet ria adalah dengan mendengar radio, terutama OZ Radio, walau kadang juga dengar Prambors. Kangen juga dengar Ardan Radio. Kalau kalian?

Galeri Foto: Akses ke Stasiun Bogor

Jika kita membawa kendaraan dan hendak menuju stasiun Bogor, maka, aksesnya utamanya hanya melalui Jl. M.A. Salmun, karena akses dari Jl. Kapten Muslihat sudah ditutup. Jalan yang dilewati ini cirinya banyak PKL di sisi-sisi jalan, banyak becak, dan kendaraan parkir di tengah jalan.

Kawasan Jl. M.A. Salmun ini sempat bersih dan bebas dari PKL, Tribunnews (2016), namun hanya beberapa saat setelah penertiban, PKL pun muncul kembali, dan terus berulang walau sudah ditertibkan. Hingga saat ini masih banyak PKL yang membandel dengan berjualan disepanjang jalur ini, walaupun mobil Satpol PP sudah berjaga-jaga disekitarnya.

Bahkan, tidak hanya itu, kawasan di area pintu masuk stasiun Bogor, sekarang ini, banyak sekali PKL yang berjualan. Belum lagi ojek online yang ikut mangkal, membuat kondisi makin semrawut.

Dari sisi pejalan kaki, kita mungkin bisa masuk dari arah Jl. Kapten Muslihat dengan jembatan penyeberangan yang layaknya seperti G. Everest di Himalaya. Sensasi naik gunung ini cukup asik, dimana proses naik seperti meniti jalan setapak. Maklum, jika ramai, jalur ini hanya muat dua orang bersebelahan, tidak cocok untuk yang buru-buru.

Galeri Foto: Puncak Bogor di Kala Itu

Dikala kebosanan akan hingar-bingar ibu kota mulai melanda, puncak memang menawarkan solusi ampuh. Walaupun banyak dari kita ikut bertamasya, puncak tidak kehilangan dinginnya udara. Fresh, benar-benar fresh!

Biasa dipenghujung minggu, kita harus bermacet-macet ria terlebih dahulu, tidak menyurutkan antusias ketika sudah berada di atas. Kemacetan tiap hari seakan dilupakan, agar momen ini dapat bertahan.

Kalau kalian bagaimana, ikut ke puncak juga?

Kesemrawutan Lalu Lintas Seolah Dibiarkan Pemerintah

Semakin penuh dan sesaknya jalan raya karena bertambahnya volume kendaraan dari tahun ke tahun adalah keniscayaan. Pertumbuhan jumlah mobil akan selalu lebih besar dengan pertumbuhan panjang jalan, ceteris paribus. Karena ekonomi yang terus tumbuh, artinya semakin makmur masyarakatnya, semakin mampu juga mereka untuk memenuhi jalan raya dengan mobil mereka.

Continue reading “Kesemrawutan Lalu Lintas Seolah Dibiarkan Pemerintah”

Foto: Tentang Kaum Proletar

20150720_151849-3Sekilas ketika saya melihat salah satu fenomena di jalan raya, seperti misalnya pengendara motor yang membawa istri dan kedua anaknya, agaknya membuat miris hati.

Keselamatan di jalan raya mereka pertaruhkan agar sekeluarga bisa pergi ke tempat tujuannya. Menggunakan motor pribadi adalah pilihan paling murah juga efisien bila dihadapkan dengan naik kendaraan umum, yang, selain lebih mahal, juga lebih ribet. Saya pun dapat mengerti, memang seperti itulah pilihan yang terpaksa diambil. Sang suami tentu mengetahui apa resikonya. Tapi, toh itupun kalau amit-amit kejadian.

Sang suami tanpa sadar sudah bermain probabilitas. Menghitung-hitung kemungkinan terjadinya kesialan di jalan, lalu membandingkan dengan kemungkinan terbaiknya.

Pilihan pun diambilnya.

Perilaku tersebut adalah sewajar dan sewarasnya manusia. Secara moral, mereka tidak bersalah. Karena keadaan ekonomi, nyawa hanya sekedar hitung-hitungan statistik saja. Dengan keterbatasannya, dia berusaha untuk membahagiakan keluarganya.

Secara umum, penilaian kesehatan dan keselamatan bergantung dari seberapa kemakmuran seseorang. Mungkin, kaum borjuis tidak akan pernah dihadapkan pilihan tersebut. Selama mampu membayar kepastian kesehatan dan keselamatan, mereka tidak akan mengambil resiko. Kemakmuran meningkatkan nilai nyawa itu sendiri.

Uang memang bukan segalanya. Tapi, uang dapat merubah cara pandang seseorang dalam menilai sesuatu.

Galeri Foto: Pengabdi CommuterLine

“KRL-nya gangguan lagi..”

Bagi yang bekerja di Jakarta dan tinggal di kota satelit, pasti banyak yang menggunakan jasa CommuterLine ini. Suka duka di pekerjaan mungkin bisa sebanding dengan suka-dukanya pengalaman kita yang setia menggunakan KRL.

Galeri foto tersebut saya dedikasikan untuk para pengabdi CommuterLine. Foto-foto ini diambil dari waktu yang berbeda-beda dalam rentang 2014-2017. Mungkin sudah ada beberapa yang berubah, jadi lebih baik tentunya. Saya berharap, PT. KCJ kedepannya selalu dapat meningkatkan pelayanan yang masih kurang, dan mempertahankan pelayanan yang sudah baik. Ratusan ribu pekerja di Jakarta bisa hadir tepat waktu bergantung dengan akurasi estimasi perjalanan keretamu! Salam hangat, dari salah satu pengabdi CommuterLine.