Mengawali Akhir

Hai.

Sudah berapa lama aku berpikir untuk mati? Masih terdengar baru rasanya. Tapi kata-kata itu sudah membuat badan ini letih.

Keadaan dimana aku merasa tidak dipentingkan lagi di muka bumi ini, namun keinginan tersebut belum mencederaiku. Aku masih terlalu takut, bagaimana jika aku masih hidup tanpa ada tujuan setelah aku mati?

Terdiam sebentar, aku bertanya-tanya.

Masih adakah tujuan dalam hidup ini? Apa sebenarnya tujuan itu?

Kamu masih meragukanku, sementara aku membisu.

Kamu yang mengatakan aku sanggup menghadapi dunia ini, namun belum sempat kurasakan arti dari gaya bicaramu. Aku tetap terdiam dalam lamunan. Apakah kamu sama seperti apa yang kuharapkan?

Keinginan mati itu mengaburkan, membuat kita tidak jelas melihat sinyal-sinyal kehidupan. Berdua kita lewati sudah, namun keinginan itu tetap merasuk ke dalam jiwa. Itu tidaklah sehat.

Aku mencoba berjalan, tertatih-tatih. Setiap langkah berat ini memunculkan kekuatan yang terlihat semu. Positif dan negatif tidak lagi berjarak, dan aku tetap berusaha berjalan. Belum jauh, sudah kutengok kebelakang. Apakah kamu yang berada disana?

Kamu yang melirihkan perkataan-perkataan yang menyemangati, berusaha membantuku yang berada dalam carut marut. Tapi, apakah yang sebenarnya kamu mau dariku yang patah semangat ini? Tidak ada lagi yang tersisa, semua mati tanpa sisa.

Aku tetap berusaha untuk baik-baik saja, menerimamu yang penuh kesempurnaan. Namun dari lubuk hatiku yang terdalam, ada ragu yang menyangsikan.

Aku ingin teriak. Melepaskan semua beban ini dan menghilang.

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s