Alasan Kenapa Tanah Harus Disertipikat (SHM)

Dari pengalaman saya mengurus sertipikat tanah sendiri, saat pengukuran waktu itu, warga sekitarnya terlihat bingung dan memiliki kecemasan. Melihat beberapa orang yang membawa dan menggunakan alat ukur tanah yang disebut Digital Theodolitemereka menjadi gusar. Mengobrol dengan mereka, katanya mereka pernah punya pengalaman buruk dengan orang-orang seperti itu.

Kejadiannya sudah lama, ketika itu orang berseragam masih ditakuti. Beberapa orang yang tidak dikenal di kampung mereka tiba-tiba melakukan pengukuran dan mengklaim tanahnya seluas 2 Ha. Kasus itu membuat warga sekitar diintrograsi oleh petugas kepolisian setempat mengenai sengketa lahan yang diklaim oleh oknum.

Singkat cerita, oknum tersebut kalah dalam proses hukum mengenai bukti kepemilikan. Dia ternyata tidak memiliki bukti yang mendasari kepemilikan atas lahan yang dia klaim. Sejak saat itu mereka takut. Karena mereka tidak merasa kecil di mata hukum. Warga tidak sadar akan hukum, terutama menyangkut kepemilikan tanah.

Walaupun warga telah mengalami hal yang traumatis tersebut, namun mereka tidak juga berpikiran untuk mengurus sertipikatnya. Mereka tidak menganggap sertipikat adalah hal penting untuk bukti kememilikan. Selama mereka masih menempati lahannya, serta tetangganya juga adalah orang yang dikenal, mereka merasa itu yang menjamin bukti kepemilikannya atas lahannya.

Beralih ke cerita pemerintah yang sangat sulit melaksanakan pembangunan diakibatkan proses pembebasan lahan yang tidak sebentar. Lamanya proses itu bukan hanya karena pemiliknya tidak ingin menjualnya, namun lebih kepada proses sengketa tanah yang baru muncul ketika suatu proyek pemerintah dimulai.

Dengan kita memiliki bukti kepemilikan tanah berupa SHM, artinya kita tidak perlu lagi khawatir kalau suatu waktu nanti akan ada yang menyerobot tanah kita. Sertipikat menjadi alas hak paling tinggi dalam kepemilikan tanah individu. Bagaimana tidak? Saat kita mengurus dokumen persyaratannya di Kementrian Agraria/ BPN sangat detil dan lengkap. Pihak BPN disini juga tidak akan menerbitkan sertipikat yang masih dalam sengketa.

Sengketa lahan banyak terjadi dikarenakan administrasi pertanahan sebelum 2003 masih buruk. Banyak proses pembelian tidak tercata. Dan bahkan dijual di atas meja seperti jual kacang. Banyak juga orang yang tidak mengerti apa saja yang menguatkan hak kita setelah memperoleh lahan. Setelah mereka tahu bahwa tanahnya bodong, mereka jual kembali ke orang yang tidak mengerti juga dengan harga murah. Ketidakmengertian orang-orang dan perilaku koruptif oknum pejabat tanah menjadi biang kerok yang menyebabkan banyaknya sengketa lahan saat ini.

Bersambung juga dengan cerita pemerintah saat ini yang sedang gencarnya mebagi-bagikan sertipikat. Mereka yang dibagikan sertipikat artinya tanah mereka tidak ada yang sengketa. Tidak juga orang yang tidak memiliki tanah tiba-tiba dikasih sertipikat sebidang tanah.

Selain itu, sertipikat tanah juga turut membantu perencanaan pembangunan. Pengukuran tanah yang dilakukan tidak hanya sekedar proses menghitung luas tanahnya saja, tapi juga sekaligus mengambil titik kordinatnya dan dimasukan ke dalam peta wilayah. Ini akan memudahkan pemerintah baik pusat maupun daerah dalam memaksimalkan fungsi dan perencanaan tata ruang wilayahnya.

Jadi, mengurus sertipikat itu baik untuk kita dan ikut serta membantu negara kita menjadi lebih baik lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s