Demokrasi dan Usaha Ternak Lele

a2544f7d-6e94-4f7a-8614-66c95da62581

Demokrasi kita sekarang ini sedang diuji-ujinya oleh rakyatnya sendiri. Demokrasi Tai Kucing, begitu orang-orang kalah banyak menyebutnya. Tidak perlu lah kita menutup mata, musyawarah hanya mitos yang aslinya tidak pernah, atau tidak diperbolehkan untuk ada. Kalau musyawarah dan mufakat tidak tercapai, kan selanjutnya adalah suatu keniscayaan muncul yang namanya voting. Ya! VOTING! Suatu mekanisme sakral yang dibawa paham demokrasi. Voting itu sendiri telah dipergunakan menyimpang jauh dari konsep idealnya dewasa ini.

Sebagai contoh kasus dalam skala kecil mengenai kejadian musyawarah hingga voting ini adalah sebagaimana kita biasa lihat dalam sidang DPR. Musyawarah selalu dibuat tidak menemui titik temu, hingga harus dilakukannya voting. Nah, sudah tau kan pastinya kalau voting itu yang dihitung adalah per kepala dianggap satu suara. Untuk memenangkan voting, itu gampang, hanya butuh memenangkan jumlah suaranya saja. Terlepas dari apakah manusia tersebut berotak lele atau tidak, selama dia punya jatah kursi, maka suaranya sangat berarti bagi keputusan hasil sidang.

Voting sendiri telah melahirkan proses lobi-lobi politik dimana suara bisa diperjualbelikan. Makanya kita sering lihat sebelum voting pasti ada putusan untuk sidang ditunda sementara waktu. Tujuannya jelas, lobi-lobi politik, atau kasarnya kita bilang proses tawar menawar “lo bisa ngasih gue apa kalau suara gue buat elo?”. Karena hasil voting diambil dari suara terbanyak, maka mayoritas lah yang akan memenangkan keputusan sidang. Dan pada akhirnya segala keputusan yang dimusyawarahkan berujung pasti pada kemenangan mayoritas. Terlepas baik atau buruknya keputusan tersebut. Yang minoritas hanya bisa bilang “Dasar demokrasi tai kucing”.

Sejauh mata memandang, tidak ada keputusan dari hasil voting suara terbanyak tersebut yang dianulir atau diganggu-gugat atau dianggap tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan. Paling mentok juga dibawa ke MK untuk diuji. Semua dibuat remang-remang, mengacu pada bahasa hukum kita yang njelimet. Padahal jika dilakukan penelitian lebih lanjut, keputusannya ini kadang diluar logika manusia pada umumnya.

Coba dibayangkan kalau itu anggota dewan ternyata adalah tukang usaha ternak lele. Lalu lele-lelenya itu adalah manusia yang punya suara sama seperti juga si tukang usaha ternak lele. Kebayang kan itu tukang usaha ternak lele bakal ekspansi bisnis jadi tukang proyek pemerintah juga. Nah! Disinilah letak bisnisnya bagi para tukang usaha ternak lele.

Demokrasi yang diambil hanya sebagiannya, hanya untuk memaksakan keputusan mayoritas semata, tapi tidak memikirkan bagaimana minoritas. Minoritas hanya dianggap ampas dari demokrasi. Bisa dibayangkan bagaimana nantinya Indonesia dikuasai para tukang usaha ternak lele ini dengan andil lele-lelenya yang sudah mewabah luas.

Ternak lele sendiri relatif mudah. Kita cukup sebar benihnya saja, nantinya ‘tuh lele berkembang biak dengan sendirinya. Tapi yang namanya usaha, perlu ada kiat khusus tentunya. Lele kalau mencapai titik kesadarannya, bisa berevolusi menjadi tukang usaha ternak lele juga. Model bisnisnya jadi seperti MLM lah. Tapi ya dasarnya lele ya tetap lele, jadi mudah saja digiring dan diternakan.

Melihat lebih dalam, awal mulanya benih lele-lele ini dimasukan ke dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Menyentuh setiap individu dengan berbagai caranya. Di Indonesia sendiri, lele-lele ini masuk ke dalam aktifitas kehidupan sehari-hari, nilai budaya, hingga agama. Benih lele ini dapat dengan mudahnya berkembang biak pada manusia yang memiliki lingkar otak mini. Terlebih dengan adanya keyakinan yang kuat akan suatu hal, utamanya agama. Para tukang usaha ternak lele mengetahui titik lemahnya manusia yang mudah menjadi lele.

Awas bahaya laten lele! Mereka para tukang usaha ternak lele menyebarkan benih lelenya melalui ajaran-ajaran agama yang selama ini sudah diamini oleh manusianya sendiri. Benih lele ini lalu lambat laun mengisi otak manusia dan berusaha untuk mengontrol otak manusia tersebut. Hingga akhirnya manusia tersebut menjadi lele seutuhnya.

Misi utama dari lele-lele ini adalah meningkatkan populasinya. Makanya, dengan pemahaman agama dari manusianya yang setengah-setengah, maka lele ini memanfaatkannya untuk membenarkan segala macam tindakannya. Mereka bisa sangat yakin bahwa upaya pemerintah untuk mengontrol kelahiran adalah upaya untuk mendiskreditkan ketentuan Tuhannya. Atau yakin bahwa jika nambah anak maka nambah rejeki pula. Dan lain sebagainya dimana segala macam tindakannya dikaitkan dengan agama dan Tuhannya.

Disisi lain, para tukang usaha ternak lele terus menyebarkan benih lele-lelenya. Karena dengan semakin banyaknya jumlah lele, maka semakin banyak pula suara yang dihasilkan. Kalau sudah dirasa cukup, tinggal dipanen lah ini lele-lele. Memberikan kontribusi untuk para tukang usaha ternak lele.

Kondisi Indonesia yang sedang nge-fly kebanyakan ngelem, sudah terlihat banyak hal yang diputuskan hanya mendengar suara paling keras. Padahal massanya tidak-lah seberapa. Apalagi isinya hanyalah sebuah omong kosong, dan tidak jauh dari kepentingan para tukang usaha ternak lele. Mereka ini memang nyari untung dari sitem demokrasi, mereka bersuara, manusia lain yang mendengarnya terheran-heran, jadilah ketika suara lele ini di dengar maka terjadilah hal-hal lucu nan menggemaskan.

Bahkan, lele-lele ini sekarang sudah mulai memperlihatkan diri secara terang-terangan. Berani mengancam dan menteror. Tapi lele-lele ini licin sekali ditangkapnya, mereka punya senjata dari keyakinan manusia yang berubah menjadi lele ini. Lele-lele ini selalu bertindak membawa agama, yang dianggap manusia itu sakral, tak boleh dikritisi dan diperangi. Sesuatu yang sulit dilawan oleh manusia. Sehingga, ketika pemerintah berusaha untuk melawan segala macam tindak kriminalnya para lele-lele, mereka ini lalu berteriak bahwa pemerintah berusaha untuk menghancurkan agamanya, memerangi agamanya. Hal ini menjadikan pemerintah dalam posisi serba salah. Padahal pada kenyataannya, yang berusaha dilawan oleh pemerintah hanyalah kaum lele-lele yang melakukan tindakan kriminal. Para tukang usaha ternak lele pun akhirnya tersenyum sambil terkekeh ketika melihat investasinya ini.

Di jaman sekarang ini, usaha ternak lele dinilai lebih menguntungkan dibanding dengan mencari gelar Phd di universitas terkenal di luar negeri. Cukup aman untuk investasi karena bakal balik modal dalam skala yang cukup besar, asalkan kita tahu memanfaatkan lele-lelenya ini saja.

Lele-lele yang lahir dari demokrasi dan menjadi amunisi untuk melawan demokrasi itu sendiri, begitulah bahasa kerennya yang gue bayangkan. Lele ini punya hak suara. Lele ini bisa menentukan sejarah Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s