Pokemon Go: Popularitas Ekstrim Yang Tidak Diharapkan.

103810992-rtsj5ot-530x298

Pernah tau Pokemon Go? Pernah memainkan game tersebut? Bagi yang pernah memainkannya apalagi sempat merasakan kecanduannya, apa kalian masih memainkannya sekarang ini? Mungkin beberapa diantara kalian ada yang sudah bosan juga. Saat ini, mobile game yang sempat populer hampir di seluruh dunia pada akhir bulan Juli kemarin sudah kehilangan hype dan menyisakan pengguna yang memang benar-benar kecanduan saja dan rela menghabiskan waktunya untuk bermain Pokemon Go.

Pada saat Pokemon Go pertama kali dirilis seketika itu pula menjadi pusat perhatian dunia. Mobile game tersebut langsung memecahkan beberapa rekor dunia, seperti: mobile game yang terbanyak diunduh pada satu bulan awal semenjak rilis, serta mendapat pemasukan tercepat dalam satu bulan semenjak rilis. Bagaimana tidak, Pokemon Go mendapat pemasukan seratus miliar dollar hanya dalam 20 hari sejak rilis dan Pokemon Go langsung merajai top chart mobile game di seluruh dunia.

Namun demikian, pada awal kemunculan rupanya game tersebut masih terdapat banyak sekali bug, terutama dengan hal yang berkaitan dengan server. Popularitas yang ekstrim ternyata tidak berdampak baik, tetapi menghantui segudang permasalahan. Salah satu permasalah yang populer adalah kapasitas server yang tidak memadai. Setelah ditelusuri lebih jauh, banyak user yang menggunakan bot sehingga jumlah traffic yang masuk ke server bertambah bekali-kali lipat.

Mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya, Niantic mengalami demand ekstrim dan sayangnya tidak didukung oleh supply yang memadai. Demand ekstrim tersebut ternyata malah berdampak buruk terhadap peforma Pokemon Go. Bisa dibilang, apa yang dihadapi oleh Niantic seperti orang yang disuguhi makanan enak-enak dalam jumlah banyak dan beragam, akan tetapi kapasitas perut orang tersebut jelas terbatas. Maka, bila dianalogikan seperti itu, orang tersebut akan memilih mana yang benar-benar ingin dimakannya saja, dan akhirnya menyisakan makanan yang tidak sanggup dia makan. Karena tidak mungkin orang tersebut seketika meningkatkan kapasitas perutnya, kan.

Mirip dengan analogi tersebut, Niantic disisi lain sepertinya memang tidak peduli dengan kekecewaan penggunanya. Fokus dari kebijakan Niantic sendiri adalah memangkas jumlah pengguna Pokemon Go yang tidak diharapkan agar penggunanya mendapatkan layanan yang terbaik. Demand ekstrim tersebut telah menjadikan Niantic berada dalam posisi di atas angin dan memberikan alasan untuk berlaku seenaknya dalam membatasi jumlah pengguna.

Dengan update terbarunya pada android versi 0.37.0 dan iOS versi 1.7.0, Niantic berusaha untuk menyingkirkan pengguna rooted device dari pengguna Pokemon Go. Pada update tersebut ternyata Niantic menggunakan sistem SafetyNet dalam mengotorisasi pengguna saat login. Penggunaan yang mirip dengan sistem Android Pay ini memang terbilang sangat ketat, sehingga beberapa aplikasi yang menyembunyikan informasi rooted device tetap terbaca. Jadi, jika masih ingin tetap bermain Pokemon Go dengan rooted device, maka pilihannya adalah menggunakan Magisk and Systemless Root, yang mana jauh lebih rumit hanya untuk sekedar bermain Pokemon Go, atau berhenti bermain Pokemon Go. Ya, mungkin alternatif solusi lainnya adalah dengan beli device baru khusus untuk bermain Pokemon Go.

Alasan dari pemblokiran rooted device adalah untuk mengeliminasi jumlah pengguna yang melakukan kecurangan dan melakukan eksploitasi terhadap Pokemon GO. Tetapi, apa yang telah berhasil dilakukan Niantic adalah membunuh antusiasme pengguna yang menggunakan rooted device tetapi tidak melakukan kecurangan. Root digunakan dalam banyak hal disamping hanya untuk melakukan kecurangan dalam bermain game. Mengasumsikan bahwa seluruh pengguna rooted device melakukan kecurangan adalah keputusan yang terbilang bodoh.

Kekecewaan pengguna sebetulnya lebih mengarah pada kebijakan Niantic yang memberlakukan pemblokiran akses rooted device ketika sudah berjalan lebih dari dua bulan. Pengguna rooted device yang memang tidak melakukan kecurangan dan telah menghabiskan waktunya untuk bermain Pokemon Go merasa telah menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal, jika saja Niantic memberlakukan kebijkan tersebut saat awal peluncuran Pokemon Go, pengguna rooted device tidak akan menghabiskan waktunya hanya untuk Pokemon Go.

Memang hype dari Pokemon Go itu sendiri juga sudah mulai menurun melihat data dari bloomberg menyebutkan tren pengguna aktif perharinya terus mengalami penurunan. Akan tetapi, akibat demand ekstrim tersebut ternyata tetap membuat Pokemon Go masih dimainkan oleh banyak pengguna. Terbukti ketika beberapa waktu lalu setelah dikeluarkannya update terbaru mengenai pemblokiran rooted device tersebut, Niantic mengeluarkan Pokemon Go Plus yang langsung sold out ketika keluar, dan bahkan banyak orang yang rela membelinya dari tangan ketiga. Ternyata kebijakan tersebut tidak mempengaruhi popularitas Pokemon Go secara drastis sesuai dengan ekspektasi dari Niantic.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s