Kuantifikasi Dari Cinta

unnamed.png

Diskusi tentang metodologi riset bersama rekan saya beberapa waktu lalu berbuntut panjang. Pada awalnya kami hanya membahas tentang beberapa aspek yang dapat diukur dalam sebuah penelitian. Aspek-aspek tersebut dapat dibagi kedalam beberapa standar yang dapat dipertanggungjawabkan dalam kaidah ilmu pengetahuan.

Dengan adanya kuantifikasi terhadap objek penelitian, maka akan ada garis batas yang jelas perbedaan-perbedaan dari objek penelitian yang dikategorikan. Sebagai contoh objek penelitiannya adalah toilet di rumah sakit. Kita bisa mengkategorikan mana toilet yang layak dan tidaknya dengan memberikan standar-standar pada setiap kategori seperti aroma ruangan yang tidak berbau atau wangi pengharum ruangan. Dengan demikian kita bisa mendapatkan hasil pasti toilet mana saja yang layak dan tidak.

Contoh lainnya adalah seorang pelayan di sebuah restoran. Dengan menggunakan pengkategorian pelayanan seperti nada suara yang ramah dan tersenyum adalah yang baik, maka kita bisa mendapatkan hasil pasti sikap pelayan sudah mendapatkan nilai yang baik atau buruk.

Permasalahan terjadi ketika masuk ke ranah psikologis dan fenomena-fenomena sosial alamiah. Tidak semua objek penelitian dapat menghasilkan angka pasti yang dapat dibandingkan.

Salah satunya adalah cinta. Pengalaman setiap orang akan cinta tidak selalu sama. Beberapa dari kita tentu pernah membandingkan antara cinta yang satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, cinta sendiri tidak dapat diberi ukuran dan pengkategorian mana cinta yang lebih baik dan terbaik.

Sama halnya dengan ikhlas, cinta pun punya dasar yang sama. Cinta dan ikhlas dapat menjadikan seseorang bertindak irasional. Maka daripada itu, cinta dan ikhlas tidaklah dapat diukur dan dibandingkan. Memikirkan dan mencoba mengerti keduanya hanya akan menjadikan kita sakit kepala dan malah akan menjadikan orang tersebut terkesan tidak melakukannya dengan hati yang tulus atau cenderung penuh keberpura-puraan.

Jika dipaksakan, cinta sebetulnya bisa saja dapat diukur dengan menggunakan proksi. Misalnya dengan mengukur seberapa banyak waktu yang habis digunakan seseorang dalam berinteraksi dengan terkasihnya. Tetapi, bila demikian, maka yang ada hanyalah sebuah omong kosong. Cinta akan kehilangan maknanya yang luhur. Terbelit akan standar yang telah ditentukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s