Alasan Dibalik Kebijakan Impor Garam

Petani memanen garam di Wedung, Kabupaten Demak, Jateng, Jumat (3/7).

Masalah impor garam ini sudah menahun sebenarnya. Lucunya, pemerintah tetap tidak bisa melakukan apa-apa selain mengambil jalan pintas dengan impor. Perlu diakui bahwa kebutuhan garam nasional tidak sebanding dengan suplai dari dalam negeri saja. Mengingat produksi garam nasional hanya bisa menyuplai setengahnya saja pada pasar.

Impor garam menjadi dilematis ketika itu menurunkan harga pasar. Bagaimana tidak, hal tersebut rupanya membuat pusing petani garam nasional yang sebagian besar adalah rakyat kecil. Mereka tidak memiliki kemampuan lebih baik dalam mengefisienkan biaya produksi. Hasilnya ketika harga garam turun, maka yang terjadi adalah tercekiknya petani garam.

Disisi lain, dengan adanya impor garam akan lebih menguntungkan bagi konsumen dikarenakan harga yang turun. Ini adalah tujuan utama dalam skala ekonomi, dimana harga akan seharusnya semakin kompetitif dan berada pada titik ekuilibrium. Kalau harga bisa lebih murah, kenapa harus menerima harga yang lebih mahal?

Upaya pemerintah dalam mencapai tujuannya swasembada pangan, termasuk garam bukan tidak ada. Saat ini, melalui BUMN yang telah diberi wewenang telah mengupayakan sebaik mungkin. Implikasinya adalah adanya investasi yang dilakukan pemerintah pada PT Garam.

Proyek yang dilakukan tersebut ternyata banyak terkendala pada masalah lahan. Banyak yang mempersoalkan impor garam ini dengan menyebutkan bahwa Indonesia yang garis pantainya terpanjang kedua harus mengimpor dari Singapura yang notabene-nya luas negaranya hanya se-Jabodetabek.

Percuma ada investasi besar pada BUMN tetapi masyarakat daerah yang dijadikan lahan industri tidak menerimanya. Kemungkinan resiko yang timbul sangatlah besar. Dari segi keamanan, hingga biaya pungutan liar. Inilah faktor utama kenapa di Indonesia menjadi sangat sulit untuk mencapai swasembada.

Kita hanya melihat segelintir rakyat kecil yang terkena dampak langsung dari kebijakan impor garam dan tidak memperdulikan kemajuan yang diharapkan akan sangat besar efek pengkalinya.

Tidak ada di dunia ini win-win solution. Semua ada yang harus di korbankan. Ketika masyarakat kecil yang sedikit itu berteriak, maka beri mereka makanan agar mereka diam. Dan buatlah mereka tidak hanya berfikir bahwa mata pencahariannya hanya itu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s