Kuala Tanjung, Mengibarkan Bendera Indonesia di Selat Malaka

Letak geografis selat malaka yang berada diantara samudra hindia dengan samudra pasifik menjadikan selat tersebut sebagai jalur utama pelayaran internasional. Dalam sehari setidaknya ada lebih dari 200 kapal yang lalu-lalang di perairan tersebut. Potensi tersebut dimaksimalkan utamanya oleh Singapura. Bisnis jasa transhipment yang dilakukan Singapura telah menjadikan Singapura sebagai hub logistik penting untuk perdagangan dunia, dimana Singapura terhubung ke 600 pelabuhan di 123 negara.

Menurut data statistik yang dikeluarkan American Association of Port Authorities (AAPA) tahun 2011, tercatat Singapura menduduki urutan kedua setelah shanghai dengan kepadatan arus bongkar muat kapal mencapai 29 juta TEUs per tahun. Dan bukan hanya Singapura yang mendapat keuntungan tersebut, tiga pelabuhan di selat malaka milik Malaysia juga masuk kedalam 100 pelabuhan tersibuk di dunia, yaitu pelabuhan klang, tanjung pelepas dan penang.

Dari besarnya potensi di selat malaka, Indonesia belum memaksimalkan kesempatan tersebut. Saat ini, Indonesia tidak mempunyai pelabuhan berskala internasional di selat malaka. Pelabuhan belawan yang berada tidak jauh dari kuala tanjung hanya mampu melayani arus bongkar muat kapal sebesar 1,2 juta TEUs per tahun. Di dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), pemerintah telah merancang sebuah ide besar untuk memanfaatkan potensi tersebut. Kuala tanjung yang berada di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, telah dicanangkan sebagai pelabuhan utama yang berfungsi sebagai hub internasional di sisi barat Indonesia dengan kapasitas sebesar 21 juta TEUs per tahunnya.

Ide besar ini juga selaras dengan semangat hilirisasi industri di Indonesia yang mengedepankan besarnya nilai tambah dari suatu produk yang dihasilkan. Pelabuhan kuala tanjung akan terintegrasi dengan kawasan industri Sei Mangkei melalui jalur kereta api. Saat ini sumatera yang merupakan daerah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia, sebagian besar hasilnya masih diekspor langsung ke berbagai negara maju karena kurang mampunya industri hilir di Indonesia dalam menyerap hasil produksi minyak kelapa sawit.

Kawasan industri Sei Mangkei menjadi motor penggerak dalam percepatan pembangunan ekonomi di sumatera. Dengan Sei Mangkei yang telah ditetapkannya sebagai Kawasan Ekonomi Khusus, kawasan industri tersebut diharapkan mampu memikat lebih banyak investor. Saat ini sudah ada PT Unilever Oleochemical Indonesia yang masuk dan siap untuk operasinal pada akhir tahun 2014.

Ketersediaan infrastruktur sangat penting mengingat hal tersebut akan berpengaruh pada biaya distribusi. Dengan adanya pelabuhan kuala tanjung sebagai hub internasional di selat malaka yang terintegrasi dengan kawasan industri Sei Mangkei, maka hal ini akan menjadi sebuah momentum bagi pertumbuhan ekonomi di sisi barat Indonesia. Kawasan di sekitar pelabuhan kuala tanjung akan menjadi lahan baru bagi para investor dalam mengembangkan industri mereka.

Bagaimanapun, suksesnya ide besar ini bergantung dari keseriusan pemerintah dalam memberikan insentif untuk menumbuh-suburkan iklim bisnis di sumatera. Insentif tersebut tidak hanya penyediaan infrastruktur, tetapi kepastian hukum yang merupakan hal terpenting bagi investor dalam memutuskan apakah mereka akan berinvestasi di daerah tersebut atau tidak. Dengan keseriusan tersebut, diharapkan akan adanya pusat pertumbuhan ekonomi yang baru di bagian barat Indonesia dan juga industri yang kuat yang memiliki nilai tambah tinggi sesuai dengan semangat MP3EI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s